Menyusun Sebuah Kerangka Novel

Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia


Nama : Tsania Puspa K

Kelas : XII MIPA 10

Absen : 35


Merancang Novel

1.   Menentukan Tema                  : Sosial

2.      Menentukan Judul                  : Izinkan Aku Tinggal Di Rumahmu

 

3.      Menentukan Tokoh Dan Perwatakan

a.       Tokoh Protagonis

         Diana                          : baik , gemar membantu , banyak berbicara , pintar,

b.      Tokoh Antagonis

         Marilla                        : tegas , pemarah

c.       Tokoh Tritagonis

         Matthew                     : lemah lembut , penyabar , penyayang

         Bu Wetta                    : pemarah

         Robert                        : ceroboh

         Pangurus Panti           : baik hati

 

4.      Menentukan Alur                    : alur maju

 

5.      Menentukan Latar/Setting

a.       Latar Tempat                     : Desa Avonlea

b.      Latar Waktu                      : 1960

c.       Latar Suasana/Sosial         : sedih , menegangkan

 

6.      Menentukan Amanat

Jangan meremehkan manusia karena penampilannya ataupun jenis kelamin semua, manusia memiliki kemampuan yang berbeda-beda , kita harus tahu bahwa akan selalu ada hal asri serta cantik dari tiap hal , termasuk dalam diri kita sendiri

 

7.      Membuat Ringaksan Novel/Gambaran Cerita

 

Izinkan Aku Tinggal di Rumahmu

 

Pada tahun 1960-an di New York, hiduplah seorang anak bernama Diana,  tidak diketahui siapa yang memberinya nama itu karena sejak kecil ia sudah tinggal di panti asuhan. Ia tidak mengetahui siapa orang tuanya, tapi yang jelas kedua orang tuanya sudah meninggal sedari ia kecil. Diana adalah anak yang sangat ceria dan bersemangat. Ia sangat suka membaca buku sehingga wawasannya sangatlah luas. Tubuhnya kecil, rambutnya merah, dan memiliki banyak bintik coklat di wajahnya. Panti asuhan itu bukan tempat yang nyaman baginya, disana ia tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup. Berbagai kenangan buruk yang menyebabkan dirinya trauma terjadi di tempat itu. Diana memiliki imajinasi yang sangat indah, sehingga sering kali ia bercerita tanpa henti. Namun, teman-temannya di panti asuhan tidak menyukai hal itu, mereka merasa jengkel. Bagi mereka semua cerita yang dibuat Diana hanyalah hayalan konyol. Bukan hanya panti asuhan saja kenangan buruk bagi dirinya, sejak kecil ia menjadi pembantu dalam sebuah rumah yang memiliki banyak anak. Majikannya sering sekali marah, karena stress yang dimilikinya. Tidak jarang Diana di dipukuli oleh majikannya, padahal Diana bekerja dengan sangat baik dalam mengurus urusan rumah.

Kabar baik datang kepada Diana, saat ia berusia 13 tahun. Ada keluarga yang ingin mengadopsinya. Tempat keluarga barunya berada di Avonlea, cukup jauh dari panti asuhan yang ditinggali Diana. Avonlea adalah desa kecil yang mayoritas penduduknya adalah seorang petani. Ia naik kereta untuk sampai disana. Diana menunggu seorang diri di stasiun kereta, menunggu keluarga barunya untuk menjemputnya. Matthew, seorang ayah yang akan mengadopsi Diana, ia datang dengan kereta kuda atau biasa disebut delman. Matthew menjemput anak yang dia adopsi dari panti asuhan. Saat Matthew sampai di stasiun ia tidak melihat seorang anak lelaki. Ternyata Matthew hendak mengadopsi seorang anak lelaki bukan perempuan. Sementara Diana sudah memasang muka bahagia karena dia yakin itu pasti keluarga barunya. Matthew mencoba menanyakan apakah ada seorang anak dari panti asuhan yang datang ke stasiun, “Apakah anda melihat seorang anak lelaki dari panti asuhan yang sedang menunggu saya?” ucap Mathhew sambil melihat sekeliling stasiun. Kemudian penjaga stasiun menunjuk Diana dan berkata, “Saya tidak melihat anak laki-laki, tapi jika anda bertanya mengenai anak dari panti asuhan maka itu adalah dia yang sedang duduk disana.”. Matthew menghampiri Diana dan bertanya apakah benar ia adalah anak dari panti asuhan dan ternyata memang benar. Dengan terpaksa, matthew membawa Diana pulang ke rumah bersamanya. “Apakah perlu bantuan untuk membawa tas?” tanya Matthew yang masih kebingungan. “Tidak perlu, aku hanya mempunyai sedikit baju sehingga tas ini tidak terlalu berat.” jawab Diana dengan sopan.  Saat hendak menaiki delman Diana sangat takjub melihat kuda yang dimilki Matthew, “Siapa namanya?” ucap Diana sambil menunjuk pada kuda. Matthew mengangkat bahunya menunjukkan ketidaktahuan. “Nama itu hal yang penting agar kita bisa mengenal lebih jauh. aku pikir Belle nama yang bagus untuk kuda coklat seperti ini.” Kata Diana mencoba memberikan saran. Matthew hanya mengiyakan dan menyuruh Diana untuk naik ke delman. Sepanjang perjalanan Matthew kebingungan apa yang harus dia lakukan, sementara Diana bercerita mengenai dirinya dengan sangat ceria “Aku sangat senang akan menjadi bagian dari keluargamu, saya yakin bisa menjadi anak yang baik, walaupun ini adalah pertama kalinya aku mempunyai keluarga.” Ucap Diana dengan semangat, sementara matthew masi kebingungan.

Marilla, istri M.atthew sudah menunggu di rumah mengharapkan seorang anak lelaki. Marilla dan Mathhew sudah menikah selama 3 tahun, tapi masih belum mempunya seorang anak. Mereka berencana mengadopsi anak lelaki agar dapat membantu Matthew di ladang. Namun, dirinya merasa sangat marah ketika yang datang adalah seorang anak perempuan yang terlihat kurus, jelek, serta rambut yang berwarna merah seperti wortel. Dengan perasaan marah Marilla berkata, “Mengapa kau membawa seorang anak perempuan, pasti ada kesalahan dari panti asuhan, sudah jelas-jelas saya meminta anak lelaki. Apa yang bisa dilakukan seorang anak perempuan, hanya menjadi beban. Mengapa kamu membawanya pulang ke rumah, Matthew? Harusnya kamu kembalikan dia ke Panti Asuhan.”. Mendengar perkataan Marilla, Diana jatuh ke tanah, ia menyadari bahwa dirinya tidak pernah diinginkan, “Tidak pernah ada yang mengiginkanku, seharusnya aku sadar dari awal.”. Diana merasa sangat kecewa karena sudah bepergian jauh namun tidak diterima dengan baik. Karena tidak ada lagi jadwal kereta untuk hari itu, Diana diizinkan tinggal sehari sebelum akhirnya kembali lagi ke panti asuhan. “Gadis kecil, mari masuk ke dalam rumah, kami tidak akan langsung mengusirmu.” Ucap Matthew. “Gadis kecil? Aku berharap bukan seorang gadis.” balas Diana sambil menangis. Marilla yang masi sedikit marah menjawab “Tidak perlu menangis, ini semua hanya kesalahan yang dibuat panti.”

Diana tidak menyerah begitu saja ia mencoba berkali-kali meyakinkan bahwa dia bukan anak permpuan yang lemah, “ Aku bisa bekerja di ladang, walaupun aku perempuan.”. Namun, menurut Marilla bukan seperti itu aturannya. “Karena aku sudah disini, apakah kamu tidak bisa mempertimbangkanya lagi?” kata Diana mencoba untuk yang terakhir kali, Marilla tetap menolak, “Buang jauh-jauh pikiran bodohmu itu!”, “Aku bisa mencuci baju, menyetrika, menyapu, dan yang lainnya. Aku bisa melakukan apa saja saat ada kesempatan.” kata Diana sambil membersihkan meja makan serta mengambil piring dan gelas kotor bekas makan siang. Marilla menjawab dengan kejam, “seharusnya aku sadar, keluarga tidak bisa dibuat-buat.”. mendengar perkataan tersebut Diana teringat kejadian di masa lalu saat tidak ada seorangpun yang ingin mengadopsinya. Kerena melamun ia menjatukan gelas yang sedang dicucinya, untungnya gelas tersebut tidak pecah.

Saat makan malam, Diana tidak makan sama sekali. Ia tidak sanggup karena terpuruk dalam keputusasaan. Diana tidak mau untuk kembali ke panti dan di bully oleh teman-temannya di panti asuhan. Diana melewatkan makan malam dan hanya menangis semalaman di kamarnya. Setelah makan malam Matthew mencoba mengajak Marilla berbicara, “Bagaimana jika kita mengadopsi Diana? Kasihan sekali dia sudah jauh-jauh datang kemari, dan sepertinya dia anak yang baik” tapi Marilla menolaknya, “Apa yang kamu pikirkan? Kita sudah bertambah tua, kita memerlukan anak yang kuat untuk mengurus ladang.”,Matthew menjawab “Sepertinya dia sangat ingin tinggal dengan kita.”. Marilla dengan tegas menjawab “Lalu kamu pikir kita harus mengadopsinya? Maaf aku harus berkata tidak. Anak itu hanya bisa bercerita sepanjang hari dan itu tidak menguntungkannya.”. Matthew sebenarnya tidak keberatan jika harus mendengarkan cerita Diana sepanjang hari, tapi ia  hanya bisa menuruti Marilla.

Keesokan harinya Marilla dan Diana pergi menemui pengurus Panti. Saat diperjalanan Marilla penasaran mengenai alasan Diana bisa menjadi anak Yatim Piatu. Tentu saja Diana tidak keberatan untuk menceritakan hal tersebut karena ia suka bercerita. Diana mulai bercerita, “Orang tuaku baru menikah dan hidup kekurangan. Mereka meninggal karena demam saat umurku tiga bulan. Aku bingung, jika memiliki anak itu beban, kenapa orang punya banyak anak?”. Marilla mendengarkan kisah Diana sepanjang jalan. Kisah Diana sangat sedih, ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Saat sedang asik bercerita tiba-tiba seekor anjing menghampiri delman yang dinaiki Marilla dan Diana. Belle, sang kuda terkejut sehingga Diana jatuh ke tanah. Namun, Diana langsung berdiri dan menghadapi anjing tersebut dengan berani. Marilla terkejut melihat hal tersebut, “Apakah kau tidak apa-apa?” tanya Marilla. “aku baik-baik saja. Tadi itu sangat seru.” Kata Cordelia dengan bersemangat

Sesampainya di rumah pengurus panti, Marilla berkata “Ada sedikit kesalahan disini, aku menitipkan kabar agar kau memberi kami anak lelaki. Kami bilang ke saudaramu, Robert tentang hal itu.”. Pengurus panti tampak kebingungan, “Tapi lewat putrinya Nancy, Robert bilang kau ingin anak perempuan. Nancy sungguh tidak bertanggung jawab. Dia sering kumari saat sekolah dulu.”. Pengurus panti meminta maaf atas kesalahannya, namun Marilla juga merasa bersalah karena menitipkan pesan penting pada orang lain. Ternyata Diana tidak bisa dipulangkan, “Dia tidak bisa kembali, karena panti asuhan sudah penuh. Saya mempunyai solusi bagiamana jika Diana bekerja di rumah tetangga saya, Wetta, ia memiiki banyak anak yang susah diatur, saya pikir tetangga saya akan memerlukan bantuan. Nanti saya hubungi dia, pasti dia bersedia” Kata pengurus panti. Mendengar ucapan pengurus panti, Diana teringat masa lalunya yang kejam dan menitikkan air mata. Mereka pergi ke rumah Ibu Wetta, rumahnya berantakan dan berisik dengan suara tangis bayi. Bu wetta melihat Diana yang lusuh dan kurus, Diana bisa mulai bekerja hari itu juga, tapi ia harus patuh dan bicara hanya jika diminta oleh Bu Wetta. Bu Wetta memiliki sikap Pemarah. Melihat kondisi rumah Bu Wetta yang kurang baik, Marilla berubah pikiran, “Aku dan Matthew belum membuat keputusan, aku kemari untuk memastikan kesalahan yang dibuat panti. Sebaiknya aku bawa Cordelia pulang dan membahasnya dengan Matthew.”. Mendengar hal tersebut Diana sangat senang, itu artinya ia memiliki kesempatan untuk tinggal di Avonlea. Marilla memberikan kesempatan kepada Diana untuk membuktikan dirinya memang berguna. Matthew yang mendengar hal ini merasa sangat Bahagia.

            Saat sampai di rumah mereka beristirahat. Tiba-tiba tengah malam terdengar suara berisik, Matthew dan Marilla terbangun dari tidurnya dan bersiap-siap. Diana yang kebingungan ikut bersama mereka. Ternyata terjadi kebakaran di rumah keluarga Barry. Semua warga membantu membawakan air untuk memadamkan api, begitu juga Matthew dan Marilla. Rumah keluarga barry sangat besar sehingga sulit untuk memadamkan apinya. Diana memperhatikan situasi sekitar, lalu ia berkata, “Kenapa pintu dan jendelanya terbuka?”. Sebelum ada orang yang menjawab, Diana berlari menuju ke dalam rumah yang terbakar. Semua warga terkejut melihat tindakan Diana itu, semuanya bingung apa yang dilakukan Diana di dalam rumah. Tidak lama setelah itu api mulai padam. Diana keluar dari rumah dengan kondisi yang lusuh, lalu Marilla bertanya, “Apa yang kau lakukan di dalam?” dengan kondisi kehabisan nafas Diana menjawab, “Api butuh oksigen. Menutup jendela dan pintu membatasi oksigen.”. Mendengar hal itu semua warga bersorak, “Diana yang melambatkan api menyebar!”. Diana mengetahui hal itu dari buku yang telah ia baca.

Setelah kejadian malam itu, Marilla menyadari bahwa Diana adalah anak yang sangat pintar. Selain itu, Marilla sadar bahwa, walaupun Diana adalah seorang anak perempuan, tapi ia sangat pemberani. Cordelia banyak bicara karena banyak hal yang ia ketahui dan ingin disampaikan. Marilla sudah tidak berfikir bahwa banyak bicara itu tidak berguna. Matthew dan Marilla memutuskan untuk mengadopsi Cordelia sebagai anak mereka. Matthew dan Marilla juga memutuskan untuk menyekolahkan Diana. Di sekolah, Diana adalah anak yang cerdas karena ia sangat suka membaca buku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyusun Teks Editorial

Teks Cerita Sejarah