Teks Cerita Sejarah

Nama    : Tsania Puspa Kirana

Kelas    : XII MIPA 10

Absen   : 35

 

Berdiri Bersama Sampai Akhir.

 

Jenderal Besar TNI (Purn.) H. M. Soeharto, lahir pada tanggal 8 Juni 1921. Ia merupakan Presiden kedua Indonesia yang menjabat dari tahun 1967 sampai 1998, menggantikan Soekarno. Soeharto tidak seperti anak desa lainnya yang harus bekerja di sawah. Dalam usia yang sangat muda, ia disekolahkan oleh Kertosudiro. Tidak ada berita-berita mengenai masa Soeharto di Sekolah Rakyat (setingkat SD). Kesan Soeharto pada masa SD itu hanya pada ingatannya tentang kerbau-kerbaunya. Dunia Soeharto hanya berkutat pada penggembalaan kerbau, jauh dari cerita-cerita anak yang didapat dari buku-buku yang kerap dibaca anak-anak SD. Hal ini berbeda misalnya dengan cerita Soekarno sewaktu dia masih di SD yang banyak berkisah tentang masa sekolahnya dan apa yang dibacanya.

 

Ketika semakin besar, Soeharto tinggal bersama kakeknya, Mbah Atmosudiro, ayah dari ibunya. Soeharto sekolah ketika berusia delapan tahun, tetapi sering berpindah. Semula disekolahkan di Sekolah Dasar (SD) di Desa Puluhan, Godean. Lalu, pindah ke SD Pedes (Yogyakarta) lantaran ibu dan ayah tirinya, Pramono, pindah rumah ke Kemusuk Kidul. Kertosudiro kemudian memindahkan Soeharto ke Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah. Soeharto dititipkan di rumah bibinya yang menikah dengan seorang mantri tani bernama Prawirowihardjo. Soeharto diterima sebagai putra paling tua dan diperlakukan sama dengan putra-putri Prawirowihardjo. Soeharto kemudian disekolahkan dan menekuni semua pelajaran, terutama berhitung. Dia juga mendapat pendidikan agama yang cukup kuat dari keluarga bibinya. Soeharto lama tinggal di rumah paman dan bibinya di Wuryantoro itu. Namun, lantaran beda umur lumayan jauh dengan Dwi, Soeharto lebih akrab dengan Sulardi, kakak Dwi. Soeharto dan Sulardi, seperti anak Prawirowihardjo lainnya, sama-sama jadi tentara. Hanya Dwi yang tak diizinkan jadi prajurit.

 

Beberapa tahun pun berlalu, Pada 1 Juni 1940, ia diterima sebagai siswa di sekolah militer di Gombong, Jawa Tengah. Setelah enam bulan menjalani latihan dasar, ia tamat sebagai lulusan terbaik dan menerima pangkat kopral. Ia terpilih menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara, Gombong, serta resmi menjadi anggota TNI pada 5 Oktober 1945. Dia bergabung dengan pasukan kolonial Belanda, KNIL. Saat Perang Dunia II berkecamuk pada 1942, ia dikirim ke Bandung untuk menjadi tentara cadangan di Markas Besar Angkatan Darat selama seminggu. Setelah berpangkat sersan tentara KNIL, dia kemudian menjadi komandan peleton, komandan kompi di dalam militer yang disponsori Jepang yang dikenal sebagai tentara PETA, komandan resimen dengan pangkat mayor, dan komandan batalyon berpangkat letnan kolonel. Setelah itu, ia bergabung dengan TNI Angkatan Darat pada tahun 1945.


Pada tanggal 19 Desember 1948 terjadi Agresi Militer Belanda II atau Operasi Gagak yang diawali dengan serangan terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya. Jatuhnya ibu kota negara ini menyebabkan dibentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatra yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara. Pada hari pertama Agresi Militer Belanda II, mereka menerjunkan pasukannya di Pangkalan Udara Maguwo dan dari sana menuju ke Ibu kota RI di Yogyakarta. Kabinet mengadakan sidang kilat. Dalam sidang itu diambil keputusan bahwa pimpinan negara tetap tinggal dalam kota agar dekat dengan Komisi Tiga Negara (KTN) sehingga kontak-kontak diplomatik dapat diadakan.

 

Untuk membuktikan kepada PBB bahwa Indonesia masih ada,  Brigade IX di bawah komando Letkol Achmad Yani, diperintahkan melakukan penghadangan terhadap bantuan Belanda dari Magelang ke Yogyakarta. Tanggal 19 Februari 1949. Panglima Divisi dan rombongan meneruskan perjalanan, yang selalu dilakukan pada malam hari dan beristirahat pada siang hari, untuk menghindari patroli Belanda. Penunjuk jalan juga selalu berganti di setiap desa. Dari Banaran rombongan menuju wilayah Wehrkreise III melalui pegunungan Menoreh untuk menyampaikan perintah kepada Komandan Wehrkreis III Letkol Soeharto.

 

Pertemuan dengan Letkol. Soeharto berlangsung di Brosot, dekat Wates. Semula pertemuan akan dilakukan di dalam satu gedung sekolah, namun karena kuatir telah dibocorkan, maka pertemuan dilakukan di dalam sebuah gubuk di tengah sawah. Hadir dalam pertemuan tersebut lima orang, yaitu Panglima Divisi III/Gubernur Militer III Kol. Bambang Sugeng, Perwira Teritorial Letkol. dr. Wiliater Hutagalung beserta ajudan Letnan Amron Tanjung, Komandan Wehrkreise III/Brigade X Letkol. Suharto. Kepada Soeharto diberikan perintah untuk mengadakan penyerangan antara tanggal 25 Februari dan 1 Maret 1949. Kolonel Bambang Sugeng berkata, “Saudara-saudara, instruksi kita telah turun. Serangan balik terhadap Jogja harus segera kita laksanakan. Harto, sanggupkah kamu memimpin serangan ini?” kemudian, Soeharto pun menjawab, “Siap, saya laksanakan.”.

 

Kepastian tanggal baru dapat ditentukan kemudian, setelah koordinasi serta kesiapan semua pihak terkait, antara lain dengan Kol. Wiyono dari Pepolit Kementerian Pertahanan. Letkol Soeharto bermaksud untuk menyampaikan kabar berita mengenai serangan ini kepada beberapa laskar yang tersebar di Jawa. Mayor Agus, sepupu kedua dari ipar istrinya kolonel Bambang Sugeng, ditugaskan untuk menyampaikan berita ini kepada Laskar Pandjen. Tidak lupa ia menitip salam kepada sepupunya, Sulardi.  

 

Putra paling tua dari Prawirowihardjo, paman Soeharto yaitu, Sulardi kini menjabat sebagai ketua dari Laskar Pandjen yang merupakan pasukan gerilya pimpinan. Ia selalu ditemani oleh tangan kanannya yaitu Letnan Waworuntu. Letnan Waworuntu menghampiri Kapten Sulardi yang sedang melatih fisiknya di dalam tenda markas laskar pandjen. Ia melaporkan hal penting yang baru saja ia dengar dari radio mengenai pasukan KNIL telah menyerang Maguwo dan hampir masuk Jogja. Kapten Sulardi menganggap bahwa ini adalah kesempatan bagi dia untuk membuktikan kehebatan pasukan Laskar Pandjen yang dipimpinnya. Namun, Kapten Sulardi mengkhawatirkan mengenai jumlah anggota laskar pandjen yang hanya berjumlah 27 orang sehingga ia menyuruh Letnan Waworuntu merekrut pemuda di Pandjen. Saat sedang berdiskusi mengenai hal tersebut, Kapten Sulardi dan Letnan Waworuntu bertemu Toar Lumempouw. Ia datang ke markas laskar Pandjen jauh-jauh dari Manado atas rekomendasi Mayor Ventje Sumual untuk membantu tugas yang dimiliki oleh Kapten Sulardi.

 

Di sisi lain, seorang bangsawan bernama R.M. Surjo Menggolo, yang tinggal di Jogjakarta merupakan pribumi yang fasih dalam berbahasa Belanda. Walaupun ia Kaya dan juga pintar tetapi ia suka berlaku semena-mena terhadap pembantunya, Lastri. Di pagi hari ia mengajak anaknya mengobrol sambil minum teh. Dengan suara yang keras ia memanggil pembantunya, “Di mana tehku? Lama sekali, kalau kamu bukan pembantu kesayangan istri saya, kamu sudah saya kirim pulang ke Pandjen, mengerti kamu!”. Lastri yang hanya bisa menurut hanya menganggukkan kepalanya. Ia ingin  Sinyo, anak dari Surjo, diperintahkan untuk belajar di leiden Belanda. Menurut Surjo jika ingin pintar maka harus mengikuti Belanda kalau tidak akan bodoh seperti Lastri. Sinyo tidak dapat menolak keinginan bapaknya.

 

Lastri sudah bekerja bersama Surjo cukup lama sehingga Sinyo dan Lastri cukup dekat. Ia menceritakan hal itu kepada Lastri, tapi perkataan Lastri membuat Sinyo berpikir dua kali untuk pergi ke Belanda, “Mau belajar apa? Ha? Teknik cara bakar desa? Atau Teknik adu domba?”. Lastri menyarankan Sinyo untuk bergabung dengan pasukan gerilya Laskar Pandjen karena lebih berguna untuk negara dibandingkan belajar jadi penjajah. Diam-diam Sinyo menyimpan rasa suka kepada Lastri, ia ingin membuktikan bahwa ia adalah seorang yang dapat melindungi tanah air.

 

Agresi Militer Belanda II membuat Sri Mulyani terbuang dari kampung halamannya di Maguwo, Jawa Tengah dan harus menanggung kesedihan karena ayahnya diculik oleh pasukan KNIL . Sri yang lugu mengembara sampai ke wilayah Pandjen dan bertemu dengan pasukan gerilya Indonesia pimpinan Kapten Sulardi Sugito yang sedang membuka pendaftaran untuk menjadi prajurit republik. Letnan Waworuntu yang menjadi penanggung jawab pendaftaran tersebut ditemani oleh Kopral Jono, salah satu anggota laskar Pandjen yang ceroboh. Pangkat Kopral Jono bahkan diturunkan dua kali oleh Kapten Sulardi karena masalah yang ditimbulkan akibat kesalahannya sendiri. Letnan Waworuntu mengatakan, “Pada hari ini, ibu pertiwi sudah memanggil kita untuk bergabung dengan Laskar Kapten Sulardi. Pemuda-pemudi Pandjen yang saya cintai, saya titipkan amanat ibu pertiwi untuk kita semua, daftarkan nama kalian pada Kopral Jono di sebelah saya. Merdeka atau mati. Merdeka! Merdeka!”. Lastri mengantarkan Sinyo untuk bergabung dalam pasukan Laskar tersebut. Disana Lastri bertemu dengan adiknya, Sari. Sari merupakan tunangan dari Kopral Jono. Mereka sudah lama tidak bertemu karena Lastri harus bekerja di Yogyakarta sedangkan Sari di Pandjen.

 

Semua Prajurit baru tiba di markas Laskar Pandjen. Kapten Sulardi memperkenalkan diri serta menjelaskan peraturan-peraturan yang berlaku. Saat sedang sibuk mengurusi anggota baru, Mayor Agus datang menghampiri Kapten Sulardi. Sudah jelas kedatangan Mayor Agus adalah untuk menyampaikan instruksi dari panglima divisi yang diperintahkan langsung oleh Letkol Soeharto, menginstruksikan agar semua pasukan laskar untuk segera berkoordinasi dan melakukan serangan sporadis terhadap kependudukan dan fasilitas tentara Belanda. Hal ini dilakukan untuk memancing Belanda agar kekuatan Belanda terpecah. Dengan melakukan serangan gencar di berbagai tempat, mereka di paksa untuk melebarkan pasukannya, sehingga semakin sedikit di tiap tempatnya. Ketika Belanda mulai lemah akan ada sebuah serangan besar-besaran yang saat ini sedang dirancang, tapi hal tersebut masih sangat rahasia. Kesempatan Kapten Sulardi untuk membuktikan kualitas pasukannya semakin dekat. Ia menyuruh Letnan Waworuntu melatih prajurit-prajurit baru semaksimal mungkin. Tidak lupa Mayor Agus menyampaikan salam dari Soeharto kepada Sulardi, “Di, ada salam dari kakak sepupumu.” mendengar kabar dari Soeharto, Sulardi teringat masa kecilnya, “Bagaimana kabarnya sehat? rasanya baru kemarin aku bermain-main bersamanya, sekarang sudah menjadi Letkol saja.” Mayor Agus menjawab, “Tentu dia sehat, kalau sakit bagaimana bisa memimpin rencana penyerangan terhadap Belanda.”

 

Sebelum para prajurit bertempur habis-habisan, kopral Jono menyarankan untuk mengizinkan para prajurit pulang ke Pandjen. Kapten Sulardi setuju akan ide Kopral Jono, selama tidak membuat kegaduhan yang dapat menarik perhatian KNIL. Malam harinya para prajurit dan juga warga sekitar berpesta. Suasana riuh dipenuhi sorakan dan juga musik gamelan. Kopral Jono melupakan nasihat Kapten Sulardi, ia hanya senang karena dapat berpamitan dengan Lastri, tunangannya, sebelum melakukan tugas. Kopral Jono mengajak Sari berbicara, “Bagaimana? Kamu sudah memikirkan lamaranku?”. Lastri dengan raju menjawab, “Sudah, tapi kata bapakku aku tidak boleh menikah tapi jangan sama kamu karena bapakku takut kalau kamu sedang bertugas nyawa mu menjadi taruhannya. Selain itu, aku juga tidak boleh mendahului Latri, kakakku.”. Kopral Jono menjelaskan bila negara sudah benar-benar bebas dari penjajah, kita diberi rumah dinas. Sari pun akhirnya memikirkan lamaran Kopral Jono sekali lagi

 

Saat para warga sedang asyik menari, ternyata tentara KNIL berada di semak-semak. Letnan Ludolph yang merupakan ketua dari pleton I mengatakan, “Republikan-republikan bodoh itu akan mampus semua mala mini.”. Disebelah Letnan Ludolph ada Once, anggota KNIL yang merupakan seorang pribumi. Once sebenarnya tidak betah menjadi KNIL, tapi pendaftaran KNIL lumayan untuk mengobati ibunya di kampung. Sri Mulyani mendengar suara di semak-semak. Karena sudah ketahuan pasukan KNIL segera menyerang para warga dan juga prajurit laskar Pandjen. Suasana menjadi ricuh para warga panik, prajurit baru yang belum dilatih untuk bertempur pun kebingungan. Sri Mulyani memberanikan diri mengambil senjata. Saat Sri hendak menembak ia melihat muka Letnan Ludolph yang tidak asing. Ternyata Letnan Ludolph adalah salah satu orang KNIL yang terlibat dalam penculikan bapaknya. Sayangnya karena teringat ayahnya, tembakan Sri meleset.

 

Laskar Pandjen gagal mengamankan warga karena kalah jumlah dengan pasukan KNIL. KNIL menculik warga Pandjen. Toar melapor kepada Kopral Jono, “Lapor, Kopral, kami gagal mengamankan warga. Jumlah mereka banyak sekali, sekitar 200 orang. Kalau tidak salah nama warga yang diculik adalah Sari dan Wiwid.” Tentu saja ia kaget Ketika mendengar bahwa tunangannya menjadi salah satu korban kejadian malam itu. Sinyo yang berada tepat di samping Kopral Jono pun tidak mampu berdiri.

 

Ternyata Sari dan juga Lastri menjadi tahanan dari pasukan KNIL. Mendengar hal tersebut Sinyo dan juga Kopral Jono merasa sedih serta kecewa karena tidak dapat melindungi seseorang yang dikasihinya. Akhirnya para prajurit laskar Pandjen Kembali ke markas. Kapten Sulardi sangat marah mengetahui banyak warga yang diculik dan juga kopral Jono yang tidak mendengarkan nasihatnya, “Saya kan sudah wanti-wanti, jangan sampai menarik perhatian musuh! Sekarang markas rahasia kita terancam ketahuan.”. Tumino, salah satu anggota Laskar Pandjen, mencoba menenangkan Kapten Sulardi. Ia mengatakan bahwa walaupun malam itu mereka kalah, tapi mereka berhasil menangkap salah satu prajurit KNIL. Orang tersebut adalah Once. Kapten Sulardi dan Letnan Waworuntu mencoba untuk menginterogasi Once, tapi karena pukulan yang diberikan oleh Toar saat mencoba menangkap Once sangat keras sehingga membuat Once dalam kondisi sadar dan tidak sadar. Letnan Waworuntu berkata, “Apa tidak ada cara interogasi yang lain, Kapten?” Kapten Sulardi dengan marah menjawab, “Pukulan Toar membuat KNIL satu ini gegar otak! Coba kamu lihat, siksaan fisik tidak bakal mempan. Percuma klain menangkap prajurit KNIL yang bodoh ini!”.

 

Sri, Kopral Jono, dan Sinyo khawatir dengan orang terdekat mereka yang diculik oleh KNIL. Mereka pergi menemui Kapten Sulardi untuk mengusulkan ide agar para warga yang diculik segera dibebaskan.Ide mereka ditolak mentah-mentah, “Kalian ini harus mengerti! Kita ini dalam masa-masa genting.” ucap Kapten Sulardi dengan tegas.  Kapten Sulardi tidak setuju dengan ide tersebut karena sebentar lagi akan ada penyerbuan ke Jogja secara besar-besaran dan itu jauh lebih penting. Letnan Waworuntu yang berada di pihak Kapten Sulardi ikut memberikan pendapat, “Jadi, kalau kita bertindak ceroboh sekarang ini, nanti strategi kita yang pertama itu akan gagal.”. Tumino angkat bicara, “Tapi kita kan tentara pembela rakyat, pak.”, Kapten Sulardi menjawab dengan, “Justru itu, kata kuncinya adalah rakyat. Demi membela kepentingan rakyat, beberapa warga harus dikorbankan.

 

Kabar tersebut sampai di telinga Letkol Soeharto, Sulardi yang merupakan sepupu dari Soeharto melaporkan hal tersebut secepatnya, sebelum keadaan semakin tidak terkendali. Letkol Soeharto segera mendatangi markas Laskar Pandjen. Mengetahui bahwa Letkol Soeharto dating, Kopral Jono mendatangi Soeharto untuk membicarakan mengenai pembebasan warga yang diculik. Letkol Soeharto berkata, “Bagaimana jika kita melakukan serangan terlebih dahulu, nanti saat Belanda sudah melemah dan menyerah, kita bisa lebih mudah untuk membebaskan warga yang diculik.”, Kopral Jono menjawab, “Kalau nunggu nanti, kita tidak tahu apa yang akan dilakukan tentara KNIL terhadap warga yang diculik.”. Lagi-lagi terjadi perbedaan pendapat. Kopral Jono yang mengetahui bahwa Letkol Soeharto pernah bergabung di KNIL menganggap bahwa ia membela KNIL, sambal marah Kopral Jono berkata, “Jangan mentang-mentang Bapak dulu adalah anggota KNIL jadi menganggap bahwa mereka adalah kawan.”. Letkol Soeharto yang merasa hal itu salah menjawab, “Serangan besar-besaran yang sudah saya rencanakan kamu pikir untuk apa? Itu semua saya rencanakan untuk memberantas para tentara KNIL.”. KOpral Jono yang sudah tidak bisa melawan akhirnya pergi. Kapten Sulardi bertanya kepada Letkol Soeharto apa yang harus dilakukan terhadap Kopral Jono, ia khawatir Kopral Jono akan melakukan hal ceroboh bila didiamkan.

 

Benar saja apa yang ada dipikiran Kapten Sulardi terjadi. Tidak terima karena idenya mengenai pembebasan warga yang diculik ditolak, Kopral Jono mengajak Sri, Sinyo, Toer, Tumino, dan Djoni secara diam-diam untuk pergi membebaskan Lastri, Sari, dan Bapak Sri. Rencana Kopral Jono adalah membawa Once dan menyuruhnya untuk menunjukkan dimana markas KNIL. Tumino khawatir jika mereka melakukan hal tersebut dapat terkena desersi. Namun, karena bujukan Kopral Jono mereka semua setuju untuk pergi. Tidak lupa mereka mengambil beberapa persediaan senjata milik Laskar Pandjen.

 

Setelah berjalan semalaman mereka pun beristirahat. Kopral Sayudi meminta Once untuk menunjukkan kemana lagi mereka harus berjalan. Ternyata markas KNIL masih sangat jauh, membutuhkan waktu sekitar satu bulan jika berjalan kaki. Toar menyarankan untuk mengintai jalur patroli Belanda agar mereka dapat menyergap Belanda dan mendapatkan mobil jip mereka. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui jalur patrol Belanda, mereka mendapatkan informasi dari warga sekitar. Saat menyergap tentara Belanda, ternyata mereka kalah jumlah. Kopral Sayudi berpikir ini sudah berakhir, ternyata datang pasukan Laskar Siliwangi yang dipimpin oleh Kapten Drajat. Kopral Sayudi sangat berterimakasih atas bantuan Kapten Drajat. Karena terburu-buru Kopral Sayudi dan prajurit laskar Pandjen yang lain segera menaiki mobil jib yang berhasil mereka dapatkan.



Lastri dan sari berada di penjara markas KNIL bersama warga yang diculik, tetapi mereka tidak dapat bertemu dengan ayahnya Sri. Mereka hanya dapat berdoa sepanjang hari, berdoa agar mendapatkan negara sendiri, negara yang tentram tanpa penjajah. Lastri berpikir bahwa kemungkinan besar mereka akan mati di tempat. Mendengar kakaknya berkata demikian, Sari semakin ketakutan, “Aku belum mau mati, Mbak. Siapa tahu kita masih bisa diselamatkan oleh tunanganku, Jono, dan Mas Sinyo yang jelas-jelas suka sama Mbak.” Lastri menjawab, “Alah, denger ya, kalau mereka jadi penyelamat kita, sudah jelas kita semua mati disini. kamu mau mengandalkan Jono yang pangkatnya diturunkan dua kali? lalu Sinyo yang baru saja jadi prajurit? Tidak mungkin bisa menyelamatkan kita.”

 

Setelah beberapa hari, Kopral Sayudi dan yang lainnya sampai di markas KNIL. Karena mereka kalah jumlah dengan pasukan KNIL yang berjumlah 30 orang, mereka memiliki rencana untuk mengirim ONCE ke dalam markas dan membebaskan para warga yang diculik. Once sudah menghabiskan beberapa hari bersama prajurit laskar Pandjen, ia merasa bahwa tindakannya menjadi prajurit KNIL adalah salah. Selain itu, ia juga menjadi prajurit KNIL karena terpaksa agar dapat membiayai pengobatan ibunya. Once setuju untuk membantu misi laskar Pandjen. Akhirnya, Once berhasil masuk setelah mengambil baju salah satu tentara KNIL secara paksa. Hal itu dilakukan karena seragam yang dimiliki Once sudah disita oleh kapten Sulardi. Sayangnya, Once ketahuan menghianati KNIL karena baju prajurit KNIL yang dia ambil ternyata berbeda ukuran dengan tubuhnya. Ia disiksa oleh tentara KNIL, kepalanya dimasukkan ke air dan dikeluarkan setelah beberapa saat. Once dipaksa untuk mengungkapkan dimana Kopral Sayudi dan yang lainnya bersembunyi. Tentu saja, ia lebih memilih melindungi Kopral Sayudi dan yang lainnya.

 

Sementara itu, hari dimana Kopral Jono dan yang lainnya pergi dari markas Laskar Pandjen, Kapten Sulardi didatangi oleh Mayor Agus. Mayor Agus berkata, “Enam prajuritmu desersi. Satu tawananmu hilang dan dua warga yang seharusnya kamu lindungi, diculik Belanda. Kamu sebenarnya pihak yang mana? Memang ya, sejak zaman kita di PETA dulu, kamu selalu bikin masalah. Kalau sudah begini, aku harus laporkan ke komandan brigade.” Kapten Sulardi menanggapinya dengan panik, “Aduh, Gus, Kolonel Soeharto itu sedang sibuk. Apalagi kemarin dia sudah jauh-jauh kemari menasihati Kopral Jono, walaupun si Jono tidak mendengarkan beliau.”. Mayor Agus berkata, “Sepupu kamu bisa bekerja dengan baik, kamu bisa-bisanya melakukan banyak kesalahan.”.

 

Mayor Agus melaporkan hal itu kepada Letkol Soeharto, “Sebelum mereka melakukan Tindakan ceroboh, lebih baik kita bantu mereka, agar semua terkendali.” ucap Soeharto dengan muka yang masih terkejut. Ia mempunyai rencana untuk mengepung markas KNIL di bagian utara, selatan, timur, dan barat. Setelah itu, di bagian pintu masuk harus ada seseorang yang menarik perhatian, sehingga Sebagian tentara KNIL yang berada di dalam akan mengecek ke pintu depan. Dengan demikian, di bagian dalam pertahanan tentara KNIL melemah. Saat itulah waktu yang tepat untuk menyerang dan membebaskan para warga yang diculik.

 

Kopral Jono, Sri, Sinyo, Toar, Djoni, dan Tumino beristirahat di gubuk yang berada di dekat markas KNIL. Mereka terlalu malu jika Kembali ke Laskar Pandjen dengan kondisi kehilangan anggota KNIL, Once, mereka juga gagal untuk menyelamatkan para warga yang diculik. Jika Kembali mereka akan dimarahi oleh Kapten Sulardi habis-habisan dan sudah pasti mengalami desersi. Namun, tidak lama kemudian Letkol Soeharto dan Kapten Sulardi bersama prajurit Laskar Pandjen lainnya datang menghampiri mereka. Kapten Sulardi berkata, “Kalian ini sudah saya bilang jangan bertindak gegabah, sekarang lihat apa yang terjadi. Kapten Drajat, ketua dari Laskar Siliwangi memberitahu saya bahwa kalian membajak jip milik tentara Belanda. Kalian bodoh ya? kalian pikir di anggota KNIL yang ada di markas bisa dihitung jari? kalian ingin melawan satu pleton?” Letkol Soeharto mencoba menenangkan Kapten Sulardi, “Karena sudah begini jadinya dan pasti para tentara KNIL sudah mengetahui kalian berada disekitar sini, sebelum KNIL mengirim pasukan untuk mencari kalian, sekalian saja kita bebaskan para warga yang diculik.”. Letkol Soeharto menjelaskan mengenai rencana yang sudah dibuatnya.

 

Once disiksa hingga matahari terbit. Pagi harinya ia akan dihukum mati, Letnan Ludolph berkata, “Prajurit Once Sahuleka, atas kekuasaan yang diberikan kepada saya oleh pimpinan tertinggi Angkatan perang Belanda. Dengan ini saya menghukum mati Anda.”. Saat itu Toar mengalihkan perhatian dengan menembakkan senjata ke arah atas. Seketika pendangan mata seluruh tentara KNIL menuju ke tempat Toar menembakkan senjata, yaitu di gerbang depan. Letkol Soeharto memberi aba-aba untuk menyerang pada saat itu juga. Akhirnya Once dan para warga yang diculik dapat diselamatkan. Sri menangis Ketika melihat kondisi bapanya yang kelaparan, Jono dan Sinyo juga bertemu dengan Lastri dan Sari.

 

Mereka akhirnya pergi ke markas laskar Pandjen. Walaupun kondisinya sudah terkendali, Kapten Sulardi tetap marah, “Kalian semua telah mencoreng nama baik bangsa dan negara ini. Dan kamu, Sayudi, setelah dua kali saya turunkan pangkat kamu, ini yang terakhir. Kamu saya pecat jadi tentara! Ini berlaku bagi kalian semua juga.”. Mereka semua terkejut mendengar bahwa mereka bukan lagi tentara Republik Indonesia. Once yang masih dianggap sebagai tentara KNIL dianggap sebagai pengkhianat dan harus dipenjara. Letkol Soeharto memberikan mereka kesempatan kedua, Kapten Sulardi tidak dapat menolak perintah Soeharto. Ia berkata, “Saya tahu kalian meragukan saya karena saya dulu pernah menjadi anggota KNIL, bagian dari belanda. Saya dulu bergabung dengan KNIL Bukan karena ideologi atau setia pada Belanda, tapi lebih sekedar cari makan. Saya akan memberi kalian kesempatan kedua. Lagu pula makin banyak yang membantu makin bagus.”

 

Mereka sadar bahwa tindakan yang dilakukan adalah salah walaupun begitu Letkol Soeharto tetap memberikan kesempatan kedua. Akhirnya, Kopral Jono, Sri, Sinyo, Toar, Djoni, dan Tumino, menghabiskan hari-hari mereka berlatih di markas Laskar Pandjen. Setiap hari, mereka bangun pagi kemudian pergi untuk berolahraga agar fisik mereka kuat. Pada siang hari hingga malam hari mereka berlatih kecakapan dalam menembak dan juga berlatih menghadapi medan perang. Mereka tidak ingin mengecewakan Kapten Sulardi dan juga Letkol Soeharto


Sementara itu, serangan besar-besaran yang sudah direncanakan akan dilaksanakan. Di Markas letkol Soeharto yang terletak di Segoroyoso telah berkumpul Laskar-laskar dari berbagai wilayah. Letkol Soeharto telah menetapkan tanggal untuk melakukan serangan, yaitu pada tanggal 1 Maret dini hari. Karena prajurit  Republik Indonesia terdiri dari banyak kesatuan dan banyak daerah, maka Letkol Soeharto menyuruh para prajurit untuk memakai janur kuning di lengan kanan agar mereka mengenal satu sama lain. Serangan ini dinamakan “Serangan Umum 1 Maret 1949” yang terjadi di Yogyakarta. Tanggal 1 Maret 1949, pagi hari, serangan secara besar-besaran yang serentak dilakukan dengan fokus serangan adalah Ibu kota Republik yakni kota Yogyakarta. Pos komando ditempatkan di desa Muto. Pada malam hari menjelang serangan umum itu, pasukan telah merayap mendekati kota dan dalam jumlah kecil mulai disusupkan ke dalam kota. Pagi hari sekitar pukul 06.00, sewaktu sirene dibunyikan serangan segera dilancarkan ke segala penjuru kota. TNI berhasil menduduki kota Yogyakarta selama 6 jam. Tepat pukul 12.00 siang, sebagaimana yang telah ditentukan semula,seluruh pasukkan TNI mundur.


 

Sedangkan serangan terhadap pertahanan Belanda di Magelang dan penghadangan di wilayah kota Surakarta, guna mengikat tentara Belanda dalam pertempuran agar tidak dapat mengirimkan bantuan ke Yogyakarta. Serangan terhadap kota Surakarta yang juga dilakukan secara besar-besaran, dapat menahan Belanda di Surakarta sehingga tidak dapat mengirim bantuan dari Surakarta ke Yogyakarta. Kapten Sulardi masih ragu dengan Kopral Jono, Sri, Sinyo, Toar, Djoni, dan Tumino, sehingga mereka belum dibolehkan bergabung dengan Laskar Pandjen. Mereka akhirnya ditugaskan untuk melakukan penghadangan ini bersama dengan Laskar Siliwangi.

 

Jalur konvoi Belanda akan beriringan seperti antrian bebek. Ada cara ampuh untuk menghancurkan barisan bebek, yaitu cukup menakut-nakuti satu ekor bebek yang ada di bagian belakang. Kalau ada satu bebek yang takut di bagian belakang dan terjadi kepanikan, maka bebek-bebek yang ada di depan pun akan panik tanpa tahu sebab kepanikan yang sebenarnya. Mereka harus bisa menghambat perjalanan tentara KNIL ke Yogyakarta sekuat tenaga. Saat tentara KNIL sudah mendekati posisi Kopral Sayudi dan yang lainnya, mereka membakar daun dan juga beberapa kayu hingga menghasilkan asap yang cukup banyak. Kemudian, Kopral Sayudi berpura-pura bahwa itu adalah gas beracun dan berteriak sekencang mungkin agar tentara KNIL masuk ke jebakan. Saat tentara KNIL sudah kehilangan konsentrasi mereka mulai menyerang. Walaupun mereka baru beberapa hari dilatih sebagai prajurit TNI Angkatan Darat, tapi mereka percaya bahwa semua ini bisa dilakukan asalkan mereka yakin.

 

Di sisi lain, Letkol Soeharto sangat lega mengetahui bahwa penghadangan yang dilakukan berhasil walaupun ada sedikit kendala dan memakan waktu cukup lama. Kapten Sulardi merasa malu karena sudah meragukan Kopral Jono, Sri, Sinyo, Toar, Djoni, dan Tumino. Ternyata mereka dapat melakukan tugasnya dengan baik. Letkol soeharto berkata,  “Sejarah perjuangan kita nanti akan menentukan. Akan begitu banyak pejuang yang namanya akan dilupakan. Mereka-mereka ini, semua yang terlibat bersama kita, Indonesia akan sangat-sangat berterima kasih. Mulai besok, segala sesuatunya akan tergantung kepada anak cucu kita, mau dibawa kemana negara ini.”.

 

Serangan Umum 1 Maret mampu menguatkan posisi tawar dari Republik Indonesia, mempermalukan Belanda yang telah mengklaim bahwa RI sudah lemah. Tak lama setelah Serangan Umum 1 Maret terjadi Serangan Umum Surakarta yang menjadi salah satu keberhasilan pejuang RI yang paling gemilang karena membuktikan kepada Belanda, bahwa gerilya bukan saja mampu melakukan penyergapan atau sabotase, tetapi juga mampu melakukan serangan secara frontal ke tengah kota Solo yang dipertahankan dengan pasukan kavelerie, persenjataan berat - artileri, pasukan infantri dan komando yang tangguh. Serangan umum Solo inilah yang menyegel nasib Hindia Belanda untuk selamanya.


Komentar

  1. struktur teks cerita sejarahnya sudah lengkap, pemilihan kata yang digunakan juga mudah unytuk dipahami, alur ceritanya sangat menarik untuk dibaca

    BalasHapus
  2. Ceritanya sangat bagus serta penggunaan kaidah kebahasaan seperti kata bermakna lampau, majas, dan kalimat langsung sudah sangat baik👍

    BalasHapus
  3. Teks cerita sejarah tersebut sudah lengkap dan sesuai dengan struktur 👍

    BalasHapus
  4. Teks cerita sejarah yang dibuat sangat menarik. Penulisan teks sudah baik dengan memperhatikan struktur dan kaidah kebahasaan yang tepat.

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. ceritanya bagus, menarik, penggunaan bahasa baik, ciri kebahasaannya ada, strukturnya juga benar

    BalasHapus
  7. Keren, pemilihan cerita, alur dan tokoh-tokoh menarik. Semangatt!!

    BalasHapus
  8. Penggunaan gaya bahasa mudah di mengerti. Alur yang yang digunakan juga tidak rumit, dan ceritanya menarik👍🏻

    BalasHapus
  9. Struktur cerita sudah lengkap,alur cerita menarik ,kata-katanya mudah dipahami ,menariks👏🏻

    BalasHapus
  10. Cerita rapih, menarik dan mudah dipahami👍👍

    BalasHapus
  11. Ceritanya menarik, strukturnya sudah lengkap, penggunaan katanya ringan, mudah dipahami, dan tidak berbelit belit

    BalasHapus
  12. Teks novel sejarah tersebut sudah menggunakan kaidah kebahasaan yang baik dan benar. Alur teksnya pun mudah dimengerti dan menarik. Terus berkarya tsan👍🏻

    BalasHapus
  13. Ceritanya bagus, alurnya menarik dan jelas, bahasa yang digunakan juga mudah dimengerti

    BalasHapus
  14. ceritanya menarik dan sangat menginspirasi. Penggambaran tokoh serta srukturnya sudah jelas

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyusun Teks Editorial